Kamis, 11 Desember 2008

JUAL BELI SURAT UTANG PENDEKATAN ATAS KRISIS SUBPRIME MORTGAGE

Masih membahas seputar pasar uang dan pasar modal, mari kita lanjutkan bahasan kita mengenai jual beli surat berharga. Untuk memudahkan dalam menjelaskan saya akan ambil contoh jual-beli surat hutang atau promissory notes (P-Notes).

Karena itu kembali dimunculkan disini contoh yang sudah menemani kita beberapa kali di blog ini, P-Notes:


Mengapa memperdagangkan surat berharga seperti P-Notes dapat menyeret Amerika ke badai krisis akibat subprime mortgage? mengapa jual-beli surat berharga dapat menggelincirkan dunia hingga ke jurang krisis seperti saat ini?

Jika kita kembali ke contoh P-Notes di atas dan kita perhatikan sejenak, P-Notes tidak lain hanyalah sebuah kertas -tepatnya- sebuah surat utang yang isinya adalah janji membayar secara tertulis dari si penerbit surat kepada pemegang surat sejumlah nominal tertentu (dalam contoh ini sebesar $ 250,000) saat surat tersebut diunjukkan -saat ditagih pemegang surat dengan cara mengunjukkan surat tersebut kepada si penerbit-. Kapan surat tersebut dapat diunjukkan? Yaitu saat jatuh tempo, dalam kasus ini tanggal 25 April 2000.

Saya berikan suatu contoh:
Sebuah perusahaan dagang tentu memiliki piutang atau tagihan ke para pembelinya baik kepada grosir, distributor, maupun sub-distributor. Piutang-piutang tersebut membuat siklus usahanya berubah tidak lagi jual-beli secara kontan (cash & carry). Karena itu dibutuhkan manajemen kas (cash management) dalam mengelola miss-match antara arus (flow) barang yang keluar dari perusahaan dengan arus uang yang masuk dari pembayaran para pembeli.

Kita asumsikan pembeli adalah A, B, dan C diberi tenggang waktu pembayaran masing-masing 1, 2 dan 3 bulan sejak pengiriman barang. Pengiriman barang dilakukan setiap bulan dimana A dan A' menunjukkan orang yang sama (A) pada dua waktu yang berbeda.

Miss-match tersebut, baik dari segi jumlah maupun timing menyebabkan perusahaan membutuhkan dana standby agar usahanya dapat terus berputar. Apabila flow tersebut disajikan ke dalam bentuk tabel, dapat diketahui informasi mengenai berapa barang yang dikeluarkan di hari apa kepada siapa. Di sisi lain dapat juga diketahui berapa banyak uang yang akan masuk dari siapa saja tanggal berapa, yang dikenal dengan jadwal pembayaran piutang (receivable aging).

Berkaitan dengan dana standby yang dibutuhkan agar usaha terus berputar, darimana perusahaan mendapatkannya?...Tenang-tenang....think smart !

Adanya jadwal pembayaran piutang, membuat perusahaan ‘PEDE’ untuk bisa ngutang alias pinjem duit dari luar, karena sudah bisa diperkirakan kapan akan ada dana masuk untuk melunasi hutangnya. Bermodalkan itulah perusahaan membuat surat hutang dengan nilai dan jangka waktu tertentu. Lalu surat hutang tersebut ‘dijual’ untuk menarik uang sesuai dengan jumlah yang diperlukan. Pembeli surat hutang bisa perorangan bisa juga perusahaan. Anggaplah surat hutang tersebut dibeli oleh bank investasi (investment banking). Sampai disini, masalah miss-match yang dihadapi perusahaan dagang sudah terpecahkan.

Di sisi lain bank tersebut tidak hanya membeli surat hutang dari satu perusahaan itu saja, tapi dari banyak perusahaan ambil contoh dari 10 perusahaan, artinya bank telah memegang 10 surat berharga berupa P-Notes sebagai alat investasi. Karena bank juga memperoleh dana dari nasabahnya yang seringkali dapat menarik dananya untuk suatu keperluan, bank memiliki problem yang sama dengan perusahaan dagang tadi, yaitu miss-match cash flow sehingga membutuhkan alat untuk pengaturan likuiditas. Bank membutuhkan dana pengganti (replacement) apabila nasabahnya menarik dana sementara uangnya masih tertanam dalam P-Notes tadi.

Untuk memenuhi kebutuhan likuiditas, bisa saja bank menjual P-Notes dari beberapa perusahaan tadi ke bank lain, namun bisa juga dengan menerbitkan P-Notes baru sesuai dengan pengaturan cash flow bank.

Alternatif I bank menjual P-Notes
Apabila perusahaan-perusahaan penerbit P-Notes kinerjanya bagus, membayar bunga yang disepakati tepat waktu maka harga P-Notes akan naik. Karena harga surat-nya naik, banyak bank lain atau sekuritas yang tertarik turut mengincar surat tersebut. Katakanlah P-Notes tersebut dijual oleh bank A sebagai pemilik awal kepada bank B. Terjadi perpindahan tangan (endorsment), sehingga perusahaan penerbit tidak lagi berkewajiban membayar bunga dan pokok kepada bank A, namun sebagai gantinya perusahaan berkewajiban membayar kepada bank B.

Begitu seterusnya saat terjadi jual-beli P-Notes yang berpindah tangan dari bank satu ke bank lainnya. Jumlah transaksi bisa berkali-kali dengan melibatkan banyak pihak, hingga akhirnya harga dari surat semakin menggelembung.

Saat P-Notes tersebut pada akhirnya dipegang oleh bank X, ternyata kondisi perusahaan sedang kurang baik sehingga nilainya turun. Apakah bank X akan menjualnya kembali dengan resiko rugi harga namun uang pokoknya kembali? atau bank X akan menahannya sampai jatuh tempo (Hold To Maturity / HTM) untuk menagihkan P-Notes tersebut ke penerbitnya agar si penerbit menepati janji tertulisnya untuk membayar sejumlah tertentu kepada pemegang P-Notes?

Jika bank X memilih opsi HTM, resiko tidak kembalinya pokok melekat padanya (tidak berpindah tangan). Katakanlah dalam perjalanannya si penerbit mengalami pailit, atau sengketa di pengadilan yang menganggu kinerja keuangan perusahaan, pada akhirnya...saat bank X mengunjukkan P-Notes tersebut ke penerbitnya, si penerbit tidak dapat memenuhi janjinya...

P-Notes hanya sekedar P-Notes...kertas hanya sekedar kertas...janji hanya sekedar janji...

Lalu berlanjut ke masalah sengketa yang lebih jauh, dimana bank x mengajukan gugatan ke pengadilan perihal penyelesaian surat hutang tersebut yang bisa berujung dengan penjualan/pelelangan aset si penerbit (jika bank X menang) itu pun tidak mudah, baik untuk mencari pihak yang berminat menjadi pembeli aset sitaan maupun untuk eksekusi sita jaminan (biasanya para preman sudah dikerahkan). Atau bisa juga bank X apes, akhirnya gak dapet apa-apa dan uangnya malah gak balik.

Alternatif II bank menerbitkan P-Notes baru
Efek kerusakan yang ditimbulkan alternatif II jauh lebih parah dan berlipat-lipat dari alternatif I.
Katakanlah bank A memegang 10 P-Notes lalu surat-surat tersebut dipaketkan menjadi satu sebagai dasar dari penerbitan P-Notes baru alias disekuritisasi oleh perusahaan sekuritas. Lalu P-Notes baru tersebut diperjual-belikan berkali-kali. Dipindahtangankan dengan melibatkan banyak pihak dan banyak transaksi.

Lalu, katakanlah bank C dengan dasar P-Notes baru tersebut mensekuritisasi lagi asetnya, dan diterbitkanlah surat baru. Hingga akhirnya nilainya menggelembung berkali-kali.

Begitu seterusnya hingga sampai pada bank X. Saat gelembung itu pecah yang berawal dari tingkat dasar (P-Notes dari perusahaan dagang), bank X akan menagihkan P-Notes nya ke bank lain, begitu seterusnya, beruntun hingga akhirnya suatu bank menagih kepada bank A, dan bank A menagihnya kepada perusahaan dagang. Tetapi karena lantai dasarnya telah lebih dulu runtuh, tidak ada lagi sumber pembayaran yang pasti. Pada akhirnya satu-persatu jatuh bangkrutlah para pihak yang terlibat dalam transaksi tersebut.

Kurang lebih, seperti itulah nasib yang menimpa Lehman Brother, salah satu Investment Banking terbesar di AS yang akhirnya jatuh bangkrut. Pitutang-piutang dari perusahaan dagang di awal cerita, bisa anda ganti dengan subprime mortgage. Para pihak yang terlibat bisa anda ganti dengan AIG, Freddie Mac, Merrill Lynch, perusahaan asuransi dan sekuritas lainnya, dst.

Dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka itulah orang-orang yang melipatgandakan (kekayaan). [Ar-Rum: 39]

Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal sesungguhnya mereka telah dilarang daripadanya, dan karena mereka memakan harta benda orang dengan jalan yang batil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih. [An-Nisa : 161]

Jumat, 05 Desember 2008

MASIH PANTASKAH KITA BERKIBLAT PADA MEREKA?

Ditengah banyaknya penduduk dunia yang terancam kelaparan, termasuk di AS yang mulai kelaparan sejak tahun 2007, disertai dengan kondisi krisis finansial global yang menggerogoti negeri-negeri di barat maupun di timur, terdapat suatu kawasan yang sepertinya tidak terlalu ambil pusing terhadap krisis. Kawasan itu berada di tengah-tengah belahan bumi antara barat dan timur, yaitu Timur Tengah.

Kawasan ini dahulu tandus dipenuhi padang pasir, namun berkat sumber daya alamnya yang kaya akan minyak dan gas bumi, kawasan ini menjadi makmur. Dari hasil eksploitasi migas mereka mendapatkan petro dollar yang berlimpah. Dari dana tersebut mereka dapat membangun kota-kota yang dulu hanyalah gurun pasir. Di gurun yang panas dan tandus, tidak banyak ditemukan oase. Air minum diperoleh dengan teknologi yang menggunakan prinsip reverse osmosis (kebalikan dari bikin telur asin), mereka olah air laut yang asin menjadi air tawar menyegarkan. Mereka bangun bendungan untuk mengalirkan air-air ke berbagai daerah dan melakukan berbagai macam cara agar daerah tersebut menjadi hijau dan layak huni. Lalu mereka bangun kota yang sangat modern di atasnya, real estate dan apartemen, gedung-dedung pencakar langit tercanggih dan hotel-hotel termewah di dunia.

Mari kita tengok salah satu negara di Middle East yang unik dan akhir-akhir ini selalu menggoncangkan dunia, Uni Emirat Arab (UEA). Perusahaan penerbangannya, Fly Emirates, pernah menjadi sponsor utama salah satu klub elit di Liga Inggris yang akrab dipanggil The Blues, Chelsea. Bahkan di tahun 2008, giliran Manchester City yang dibeli oleh konglomerat asal Ibukota UEA, Abu Dhabi.


Selain Abu Dhabi, berjalan sedikit ke timur laut terdapat sebuah kota lain di UEA yang juga penting kedudukannya bagi dunia, Dubai. Bahkan dari segi pesatnya kemajuan pembangunan, Dubai sebagai pusat perekonomian UEA lebih maju dari Ibukotanya sendiri.



Bayangkan tatkala rakyat Amerika mulai kelaparan, begitu pula negara barat dan timur kacau karena krisis, di Dubai pada bulan November 2008 lalu malah diresmikan sebuah hotel yang paling mewah di dunia. Hotel itu diberi nama “Atlantis, The Palm”. Ini adalah fotonya saat masih dalam masa pembangunan:



Dinamakan Atlantis karena hotel canggih dan mewah tersebut dibangun menjorok ke laut di lahan hasil reklamasi, sehingga mirip dengan dongeng negeri Atlantis.

Diberi istilah Palm karena areal tersebut banyak dihiasi dengan pepohonan jenis palem-paleman (family palmae). Bahkan apabila dilihat dari atas, seluruh hotel berada di sebuah pulau buatan yang didesain seperti layaknya sebuah pohon palem.

Indahnya, sugguh menakjubkan !
Saat diresmikan beberapa waktu lalu, lebih dari 2.000 selebretis top dunia menghadiri acara tersebut. Gak tanggung-tanggung peresmian dimeriahkan dengan pesta yang menghabiskan biaya 20 juta dollar AS, hanya untuk membakar kembang api. Konon pesta kembang abi itu adalah pesta kembang api terbesar abad ini, tepatnya 7x lebih besar dari pesta pembukaan Olimpiade di Beijing kemarin.

Hotel ini memiliki 1.539 kamar dengan tarif per malam sebesar 35,000 dollar AS. Dilengkapi dengan taman air yang terbesar di Timur Tengah dan akuarium raksasa yang dapat menampung 65.000 ikan. Lebih dari semua itu, pembangunan seluruh areal hotel memakan biaya 1,5 miliar dollar AS.

Sementara Hotel Atlantis diresmikan, di belahan bumi yang lain, tepatnya di Amerika, sejumlah petinggi dan pejabat dari berbagai negara tengah berkumpul dalam forum G-20 untuk membahas jalan keluar dari krisis finansial global. Usulan negara kita yang disampaikan oleh Presiden SBY saat itu, ternyata diterima dan disambut baik oleh sidang, yaitu bahwa diperlukan pembentukan lembaga investasi yang memiliki dana untuk penyelamatan krisis di berbagai negara.

Lembaga tersebut dikenal dengan istilah SWF (Sovereign Wealth Funds). Mudahnya SWF adalah lembaga keuangan yang mengelola ‘dana abadi’ untuk kesejahteraan dan tidak akan jatuh bangkrut/pailit (sovereign). Seperti diberitakan oleh Investor Daily tanggal 28 November 2008, bahwa di dunia telah terdapat beberapa SWF yang dibentuk. Ternyata SWF yang terbesar adalah SWF asal UEA, yaitu Abu dhaby Investment Authority yang memiliki dana untuk bantuan sebesar 875 miliar dollar AS, bahkan menurut sumber lain sudah mencapai 1,32 triliun dollar AS. Tercatat di nomor urut dua adalah SWF milik Norwegia, The Government Pension Fund of Norway yang memiliki dana sebesar 391 miliar dollar AS, atau hanya 30-40% dari milik Abu Dhabi. Dan berikutnya diikuti oleh SWF-SWF lain dengan dana yang lebih kecil.

Bandingkan dengan kita, cadangan devisa kita per akhir Oktober 2008 adalah sekitar 50,6 miliar dollar Amerika (5% dari SWF-nya Abu Dhabi). Jompang sekali ya?

Apa inti dari semua ini?
Bahwa
tatanan perekonomian dunia telah berubah. Untuk apa kita masih berkiblat ke negara-negara barat yang ternyat tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri? Untuk apa kita masih menganut sistem ekonomi yang ternyata tidak mampu menyelamatkan negara yang menciptakan dan memakai sistem tersebut? Oleh karena itu, sungguh tidak layak bagi kita Indonesia, jika ingin survive, apabila kita tetap berkiblat kepadanya.

Timur tengah kaya akan petro dollar, dan tentunya tidak sembarangan pihak dapat menarik dana berlimpah itu untuk menyelamatkan atau berinvestasi di negerinya, karena syarat mutlak dari negara-negara di Middle East adalah bahwa dana tersebut harus dikelola dengan prinsip syariah (sharia compliance).

Potensi Islamic Finance di Indonesia adalah yang terbesar di dunia, dalam lima tahun terakhir pertumbuhan rata-rata perbankan syariah di Indonesia lebih besar dari 50% per tahun. Bank-bank asing berlomba membuka bisnis unit syariah. Para investor asing saat ini sedang mengintip pasar di Indonesia untuk berlomba membuka layanan syariah. Namun kita masyarakatnya, masih saja tidur dan belum juga sadar bahwa kita adalah The Sleeping Giant of Islamic Finance in the World. Padahal begitu besar
potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari dana yang dikelola secara Islamic Finance.

Inilah saatnya bangkit! Sebagai seorang praktisi Islamic Finance, saya menyerukan dan mengajak seluruh lapisan masyarakat, mari kita turut berpartisipasi dalam mengembangkan Islamic Finance, bergabunglah menjadi nasabah perbankan syariah, kunjungilah cabang-cabang bank syariah terdekat, dan bebaskanlah diri kita dari buruknya riba.

Kamis, 04 Desember 2008

DARI PERMAINAN HARGA MINYAK MENUJU KRISIS PANGAN

Melanjutkan efek dari ulah para spekulan yang menyihir minyak menjadi dadu, ternyata imbasnya tidak cukup berhenti sampai harga minyak yang melonjak tinggi saja. Imbasnya bahkan sudah menyebabkan dunia terancam krisis pangan. Kok jauh sekali ya?

Para spekulan tidak puas hanya dengan minyak, tapi komoditas-komoditas penting lainnya pun tidak luput dari permainan mereka seperti batu-bara, CPO, dll. Walaupun demikian, biarlah kita asumsikan disini bahwa hanya minyaklah yang sudah tidak mencerminkan hukum supply-demand akibat ulah para spekulan sementara komoditas lain terbebas dari itu. Kita anggap saja begitu.

Akibat harga minyak membumbung setinggi langit, harga komoditas yang menjadi sumber energi juga ikut naik. Mahalnya harga minyak memaksa para pelaku bisnis untuk melirik sumber energi lain yang lebih murah khususnya coal dan gas, yang karena itu permintaan akan coal & gas meningkat pesat sehingga harganya naik.

Naiknya harga coal memicu para pelaku bisnis berlomba-lomba terjun membuka pertambangan. Di tahun 2007 terjadi booming coal, dan Indonesia berhasil menjadi produsen sekaligus eksportir coal terbesar di dunia berkat ‘sumbangan’ dua pulau, yaitu Sumatera dan Kalimantan yang menurut Kementrian ESDM memiliki kandungan coal terbesar di Indonesia, masing-masing sebesar 27,3 dan 32,9 miliar metrik ton sehingga total deposit coal di Indonesia sebesar ±60,5 miliar metrik ton.

Di sisi lain, booming coal membuat berjuta-juta hektar lahan hijau akhirnya dikorbankan menjadi tambang. Hutan di Sumatera dan Kalimantan semakin hari semakin menipis. Hal tersebut membuat para pemerhati lingkungan gerah, karena efek dari global warning sudah semakin terasa akibat dari emisi gas rumah kaca (H2O(g), CO2, CH4, N2O, CFC atau freon dari senyawa florin klorin dan bromin) yang terus meningkat, khususnya disebabkan dari hasil pembakaran bahan bakar bersenyawa hidro-karbon.


Kemudian diserukanlah penggunaan bahan-bakar terbarukan yang ramah lingkungan yang dikenal dengan biofuel. Salah satu bahan baku biofuel yang paling mudah didapatkan dan paling berlimpah ketersediaannya di dunia adalah minyak kelapa sawit atau CPO (crude palm oil), karena CPO dapat diolah menjadi biodiesel. Namun sayangnya, permintaan CPO juga tinggi, tidak hanya untuk biofuel, CPO diperlukan untuk beragam produk seperti minyak goreng, mentega, margarin, emulsi makanan, sabun, kosmetik, dll. Inilah yang menyebabkan CPO menjadi primadona sehingga harganya pun turut naik dan booming.



Seperti halnya yang terjadi pada batubara, naiknya harga CPO memicu pertumbuhan industri kelapa sawit dalam rangka memenuhi banyaknya permintaan. Walaupun secara kasat mata kerusakan lahan tidak separah yang terjadi karena aktivitas pertambangan, namun tetap saja banyak lahan yang tadinya hutan hujan tropis beralih menjadi kawasan
perkebunan. Kembali lagi, dua pulau Sumatera dan Kalimantan lah yang menjadi korban. Hal ini juga diteriaki oleh para pemerhati lingkungan, karena fungsi hutan untuk menyerap emisi gas rumah kaca khususnya CO2 semakin menurun. Padahal Sumatera dan Kalimantan adalah bagian dari paru-paru penghasil oksigen yang paling penting di dunia. Berkurangnya hutan juga berarti berkurangnya keanekaragaman hayati dan ekosistem. Sampai akhirnya muncul slogan Green Peace: “Pohon kok makan pohon, palm oil should not destroy forrest.”


Selain desakan dari pemerhati lingkungan, booming dan tingginya harga CPO membuat para produsen biodiesel -yang sudah pasti ingin untung- berfikir panjang. Apakah memang membuat biodiesel dari CPO itu menguntungkan atau malah merugikan. Setelah dihitung-hitung kok ternyata ongkos produksi membuat biodiesel dari CPO justru malah lebih mahal dari ongkos lifting (nge-bor) dan memurnikan crude oil dari dalam perut bumi menjadi BBM siap pakai. Kalau gitu buat apa dong? Biodiesel tetap gak akan laku, karena orang akan membeli BBM hidrokarbon yang lebih murah. Hal inilah yang membuat negara sekuat German, akhirnya terpaksa menghentikan proyek biodieselnya untuk sementara waktu.



Tidak kehilangan akal dicarilah bahan baku biofuel lain selain CPO. Mulailah dilirik pohon jarak, sorgum (sejenis gandum kasar), dan singkong. Dalam hal ini singkong dapat menghasilkan bioetanol. Biaya untuk memproduksi seliter bioetanol berbahan baku singkong berkisar Rp3.400- Rp4.000. Satu liter bioetanol terbuat dari 6,5 kg singkong. Meski harga jualnya lebih mahal ketimbang premium, bioetanol laku di pasaran karena teruji dan terbukti dilapangan menghasilkan kinerja mesin lebih bagus dengan konsumsi bahan bakar lebih hemat 20-30 persen.

Dengan segala kelebihan di atas, secara jangka panjang bisnis bioetanol patut dikembangkan. Sayangnya, para pelaku agribisnsi merasa kejatuhan durian runtuh. Para petani lebih memilih menanam tanaman biofuel daripada menanam bahan pangan. Baru-baru ini saya mengunjungi Lampung untuk suatu pekerjaan, terbentang luas hampir disepanjang jalan yang saya lalui, kebun singkok dikiri dan kanan jalan. Tak terkecuali pekarangan rumah penduduk yang seolah tak mau ketinggalan juga menaman singkong. Di sisi lain singkong adalah tanaman umbi-umbian yang menyerap unsur hara, sehingga lama kelamaan tanah akan berkurang kesuburannya dan sudah tentu merugikan petani tradisional.

Di banyak negara, khususnya AS lahan-lahan pertanian berubah menjadi lahan tanaman biofuels. Hal ini menyebabkan produksi pangan dunia terus tergerus, sementara populasi semakin meningkat dengan kebutuhan pangan yang semakin besar. Akhirnya harga pangan secara intrnasional pun membumbung tinggi, dan derita rakyat jelata yang sudah sulit menjadi semakin sulit.

Di saat pasar modal dan pasar uang runtuh, diikuti oleh turunnya harga crude oil secara drastis semuanya pun ikut terseret. Industri yang sudah terlanjur beralih dari minyak ke coal tidak dapat dengan mudah mengubah instalasinya untuk membeli minyak yang saat ini harganya lebih murah dari coal. Disaat harga minyak turun, jutaan hektar hutan yang telah beralih menjadi lahan perkebunan dilanda krisis karena anjloknya harga CPO, dan jutaan hektar lahan pertanian yang sudah terlanjur beralih menjadi ladang biofuel pun tidak dapat dikembalikan fungsinya dengan mudah, sementara krisis pangan sudah siap mengancam dunia.
Akankah kondisi ini terjadi jika manipulasi hukum supply-demand terhadap minyak tidak terjadi?

Kini kita sudah sampai pada suatu keadaan dimana dunia diancam krisis pangan, kerusuhan, dan kelaparan. Sejak awal tahun 2008, setiap hari 26.500 anak-anak mati akibat kelaparan apalagi ketika harga-harga bahan pokok semakin mahal dan semakin sulit diperoleh.

Bahkan kelaparan tidak hanya menerjang benua Afrika, namun sudah melanda negara super power. Departemen Pertanian AS menyampaikan berita yang cukup mengejutkan bahwa sejak tahun 2007 telah terjadi kelaparan di AS. Hal tersebut berdasarkan studi yang mereka lakukan ke 45.600 rumah tangga yang mewakili 118 juta keluarga.

Menurut laporan Deptan AS, pada tahun 2007 saja, sekitar 700.000 anak-anak AS teridentifikasi berada dalam kondisi "keamanan pangan" yang sangat rendah atau dengan kata lain dapat disebut mengalami kelaparan. Hasil studi itu menunjukkan bahwa 1 dari 8 orang AS, atau hampir 11,9 juta warga AS kelaparan pada tahun 2007.

Presiden Food Research and Action Center, James Weill mengungkapkan, jumlah orang yang kelaparan di AS kemungkinan akan terus bertambah, bahkan hingga 50 persen pada tahun 2008 ini. “Berdasarkan pada meningkatnya permintaan tahun ini di tempat-tempat pengambilan kupon makanan, permintaan akan dapur umum darurat, juga permintaan klinik untuk kaum perempuan, anak-anak dan balita di seluruh struktur layanan sosial, cukup beralasan untuk mengatakan bahwa jumlah orang yang kelaparan akan bertambah banyak,” papar Weill.

Tanggal 26 November 2008, Washington Post memberitakan bahwa permintaan kupon makanan di kalangan rakyat AS mencapai angka tertinggi pada bulan November kemarin yaitu sebesar 30 juta kupon. Para analis berpendapat bertambahnya pengangguran yang mencapai 6,5 persen di bulan Oktober dan diperkirakan bertambah menjadi 8 persen sampai akhir tahun 2009 serta mahalnya bahan pangan, menjadi penyebabnya meningkatnya jumlah permintaan kupon makanan. Kenaikan harga yang sangat cepat justru terjadi pada bahan makanan utama warga AS seperti telur dan roti.

Setelah terjadi kondisi seperti ini, yang bermula dari ulah para spekulan dalam melonjakkan harga crude oil yang berakhir dengan krisis pangan, semua tergantung kita. Apakah manusia tersadar dengan teguran dari langit berupa krisis pangan yang siap menerkam, yang dengan itu manusia kembali ke jalan yang benar?

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Ar-Ruum : 41]

Rabu, 03 Desember 2008

MENYIHIR KOMODITAS MENJADI DADU

Melanjutkan dongeng minggu lalu, saat subprime menjadi pemicu goncangan di pasar uang dan pasar modal dengan nilai kerugian yang sangat besar, para spekulan (penjudi berdasi) yang ditimpa kerugian hingga bersimbah darah tidak kehilangan akal. Mereka sudah mengincar ‘meja judi’ yang baru untuk memuaskan kerakusan mereka akan harta dengan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya walaupun harus berdiri di atas penderitaan orang banyak.

Celakanya, ‘meja judi’ yang baru bukanlah kertas (surat berharga) yang hanya dimiliki oleh segelintir orang atau badan usaha, yang jika ‘meledak’ hanya akan merugikan para pihak yang ‘memegang’ kertas itu saja dan tidak akan menyeret pihak lain yang tidak tahu apa-apa. Namun dalam hal ini, mereka telah masuk ke domain yang secara langsung berimbas kepada sendi-sendi kehidupan masyarakat luas di seluruh dunia dengan mempermainkan komoditi.

Sugguh tega, gak tanggung-tanggung komoditi yang mereka pilih adalah komoditi penting yang seharusnya dijaga dari tangan para spekulan. Mereka memilih minyak mentah sebagai ‘dadu permainan’ yang siap dilemparkan di ‘meja judi’. Di tengah penderitaan masyarakat internasional khususnya masyarakat menengah ke bawah, para perusak ekonomi ini meraup untung ratusan milyar dollar AS dari perekayasaan harga minyak mentah dunia di bursa komoditas. Akibatnya harga komoditas paling penting ini mengalami lonjakan luar biasa yang sulit diterima akal sehat.


Apakah pernah terfikir oleh Anda akan adanya kejanggalan dalam pergerakan harga crude oil? Saya masih ingat tahun 2004-2005 waktu menangani proyek di salah satu lapangan minyak di Prabumulih, harga crude oil saat itu berada dalam kisaran 30-40 dollar AS per barell. Dengan harga itu pun perusahaan minyak sudah bisa surplus, dan karena harga crude oil bagus banyak lapangan minyak yang sudah tua yang dulu sempat ditutup -karena dinilai tidak memenuhi skala ekonomis untuk ditambang- kembali diaktifkan. Lalu harga minyak bergerak naik, dan terus naik hingga sempat mencapai angka 120 dollar AS per barell di kuartal I tahun 2008.


Kalau boleh mundur sedikit ke belakang, kembali ke bulan Mei-Juli 2008 dan kita jeli sedikit saja, harga komiditi -minyak- yang bergerak dan melonjak naik adalah harga untuk future contract yang mencapai 120 dollar AS per barel itu. Future contract adalah transaksi yang harganya ditentukan saat ini sedangkan transaksi barangnya dikirimkan di masa yang akan datang. Oleh karena itu, di bulan April 2008 media-media sudah memberitakan harga minyak brent atau light sweet atau jenis crude oil yang lain untuk pengiriman Juni 2008 adalah ...sekian.... per barrel. Pemberitaan itu dengan jelas menginformasikan bahwa harga tersebut adalah harga future contract, sedangkan di spot-contract (transaksi di hari berjalan/transaksi saat itu) harganya lebih realistis (lebih murah).

Mengapa demikian? Mengapa harga spot lebih murah dari harga future? Karena adanya ketidakpastian masa depan! Dan ketidakpastian inilah yang dimanfaatkan oleh para spekulan sebagai celah untuk mengeruk keuntungan.



Karena minyak adalah komoditi yang paling penting untuk memenuhi kebutuhan energi dunia, banyak pihak yang berkepentingan saling berlomba untuk mengamankan pasokan minyaknya di masa depan. Namun mereka tidak dapat memastikan seperti apa permintaan untuk 3 bulan mendatang. Mereka tidak tahu dengan pasti seberapa banyak permintaan akan naik dan sepertinya agak mustahil jika turun. Juga tidak tahu berapa harga minyak di 3 bulan mendatang, akankah turun atau naik. Karena adanya ketidakpastian itulah para pembeli berani membayar lebih mahal sebagai kompensasi atas resiko. Dengan forward contract setidaknya pembeli akan merasa lebih aman karena terhindar dari kerugian yang lebih besar. Misalnya harga sekarang 100, lebih baik membeli lebih mahal sekarang diangka 110 untuk pengiriman 3 bulan mendatang, daripada membeli nanti 3 bulan lagi saat harga ternyata mencapai angka 125, itu pun dengan kondisi ketersediaan pasokan barang yang belum tentu ada. Bila ternyata 3 bulan kemudian harga turun sepertinya terlihat rugi, namun tidak demikian, yang diamankan disini adalah kontinuitas pasokan.

Sayangnya, spekulan juga mencium peluang tersebut. Niat tulus para pelaku bisnis untuk mengendalikan resiko justru dimanfaatkan spekulan. Adanya rentang waktu 3 bulan bisa dimanfaatkannya untuk bermain dadu di komoditi berjangka. Hasilnya, dalam waktu 3 bulan dokumen minyak dapat diperjual-belikan dan dipindahtangankan berkali-kali ke banyak pihak, sudah tentu nilainya juga akan turut menggelembung. Masih ingatkah dengan contoh transaksi pisang yang dulu sempat dijelaskan?

Jika kita ingat-ingat pelajaran ekonomi di SMA tentang hukum permintaan dan penawaran, dimana harga akan naik jika permintaan naik dengan penawaran yang tetap atau turun, maka patut kita bertanya apakah pergerakan harga minyak yang (sempat) naik fantastis ini memang benar-benar berasal dari tingginya tingkat permintaan? Atau hanya berasal dari tingkah laku dan ulah para spekulan yang tidak bertanggung jawab yang membuat permintaan seolah-olah naik untuk menaikkan harga?

Tidak masalah jika harga minyak merangkak naik apabila memang murni disebabkan oleh hukum permintaan-penawaran, karena pasar secara dinamis pasti dengan sendirinya akan mencari titik keseimbangannya (equilibrium), disamping naiknya harga minyak ini akan menghasilkan multiplier effect yang menggerakkan sektor perekonomian lainnya. Berbeda halnya jika harga naik disebabkan permintaan yang semu, sektor riil tidak akan bergerak dan titik keseimbangan tidak akan tercapai.

Kembali ke pertanyaan, apakah benar harga minyak yang (sempat) naik itu disebabkan kerena hukum permintaan-penawaran atau justru ada ulah para spekulan?
Jawabannya bisa anda renungkan sendiri:
Saat perekonomian dunia morat-marit dan kondisi di sektor-sektor industri lainnya sedang lesu, justru minyak malah booming dengan harga selangit. Seolah-olah semua sarana produksi, industri-industri, dan konsumsi energi rumah tangga (yang semuanya merepresentasikan sisi permintaan) juga meningkat dan mengalami booming.
Kenyataan ini mejelaskan kepada kita semua, bahwa perkembangan harga minyak mentah sudah tidak sesuai lagi dengan mekanisme supply dan demand riil. Sebagaimana yang dikatakan Sekjen OPEC, harga minyak melambung disebabkan oleh permainan spekulasi di bursa komoditas dan menurunnya nilai mata uang dollar Amerika.

Disisi lain, karena harga minyak yang gak karuan, biaya produksi menjadi mahal, begitu pula dengan transportasi sehingga harga barang-barang pun ikut naik. Sedangkan disaat yang sama sektor riil tidak turut bergerak yang artinya daya beli masyarakat tidak ikut naik, sehingga harga barang-barang semakin tidak terjangkau dan pada akhirnya hidup rakyat jelata semakin terasa berat.

Apakah efek dari tangan para spekulan ini berhenti sampai disini? Tidak ! Dongeng belum selesai....
Mari kita renungkan, jika kita lihat sekarang harga crude oil sudah turun menjadi 50-an dollar AS per barrel, padahal tidak lama berselang, beberapa bulan lalu harganya mencapai 120 dollar untuk satuan unit yang sama. Apakah tidak janggal? Jika memang benar beberapa bulan lalu naiknya harga crude oil sampai mencapai titik yang tertinggi dalam sejarah itu semata-mata disebabkan karena hukum supply-demand, mengapa sekarang anjloknya sangat drastis ?!?! Seperti halnya dulu naiknya pun sangat drastis.
Ini komoditi Bung ! Bukan saham yang naik-turun secara drastis. Setidaknya dalam kondisi krisis seperti ini, dan harga minyak turun drastis, mudah-mudahan dunia sadar dengan apa yang terjadi, dan esok harinya terbangun dengan sebuah pertanyaan: 'ada apa dengan semua ini?' Mungkinkah harga minyak saat ini adalah harga yang mencerminkan hukum supply-demand yang sesungguhnya?

Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.". Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al-Baqarah : 11-12]